Banjir Bandang Bahodopi dan Produksi Tambang Kapitalis

Adriansa Manu (Kadi Katu), Manager Kampanye dan Jaringan YTM

Produksi yang bersandar pada corak produksi kapitalis, mengharuskan penghancuran lingkungan hidup (alam) dan juga tubuh manusia. Karena motif untuk menggunakan alam adalah mengejar profit yang besar, alam pun harus dikeruk seluas-luasnya dalam jumlah besar. Produksi kapitalis tambang PT Bintang Delapan Mineral (BDM)/PT Thixing Group adalah satu contoh dimana alam menjadi rusak tanpa memikirkan efek dari kehancurannya.

Sebagaimana industri ekstraktif, deposit mineral hanya ada dalam tanah, tidak bisa dipindah-pindahkan. Maka kapital membutuhkan perlindungan yang tinggi, sebagai syarat yang diperlukan agar proses produksi dapat berlangsung. Hal ini merupakan salah satu upaya agar perlawanan kelas pekerja (buruh) atau resistensi petani dapat diredam. Berbeda halnya dengan produksi kapital di industri lain, jika perlawan kelas pekerja (buruh) masif dilakukan atau ongkos produksi (upah) terlalu tinggi, maka kapital dapat mencari wilayah lain dimana perlawanan dan upah buruh lebih rendah, sehingga tingkat keuntungan menjadi lebih tinggi.[1]Dengan demikian, reaksi kapital industri ekstraktif lebih keras dibanding industri lain, karena deposit mineral hanya berada di tempat-tempat tertentu. Eksploitasi ‘surplus’ tenaga kerja juga lebih kejam dalam produksi mineral. Konsekuensi lainnya, bencana alam merupakan rangkaian cerita dari anarki kapital dalam industri ekstraktif. Kerusakan alam niscaya dalam produksi kapitalis, sebagaimana motifnya adalah mengeruk ‘surplus’ untuk mendapatkan profit tinggi.

Banjir Bandang Bahodopi: Implikasi dari Ekstraksi Kapital

Terhitung sejak PT BDM beroperasi di blok Bahodopi, bentuk hutan mulai berubah menjadi gundul. Namun PT BDM terus mengkampanyekan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup, bahkan mengklaim dirinya sebagai perusahaan yang ramah lingkungan. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa klaim PT BDM terlalu berlebihan, kalau tidak mau dikatakan omong-kosong belaka.

Jarak pabrik dengan perkampungan penduduk yang bermukim di Desa Fatufia, terutama dusun Kurisa, sangat dekat, sehingga mengakibatkan partikel cerobong pabrik dengan mudah menyebar ke pemukiman penduduk. Tidak saja asap, tetapi juga debu menjadi masalah serius bagi penduduk di Desa Bahomakmur. Data puskesmas Bahomakmur 2014 memperlihatkan sejak tahun 2012 hingga 2014, 226 penduduk mengidap Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA), selain itu penduduk juga mengalami Diare, Paringitis, dan Asma.

Pada tahun 2010, dimana perusahan ini mulai melakukan operasi produksi di hulu sungai yang melintas tepat di Dusun I dan II di Desa Bahokmamur, sungai itu meluap dan membawa material kayu serta lumpur merah, mengakibatkan sawah-sawah petani dan pemukiman terendam. Sejak saat itu, blok Bahodopi mulai rawan dengan banjir besar.

Beberapa waktu lalu, bencana alam kembali terjadi di wilayah konsesi perusahaan tambang Nikel PT Sulawesi Mining Investment (SMI)[2] di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Pada 8 juni 2015, banjir bandang menyapu perkampungan Bahomakmur, Bahodopi, Keurea dan Fatufia. Kabarnya, tidak sedikit kerugian yang dialami oleh petani dan mayoritas kelas pekerja. Data yang dihimpun Yayasan Tanah Merdeka (YTM), menyebutkan 10 rumah di Desa Bahomakmur dan 4 rumah warga hancur diterjang air deras yang melintas sekejap hingga tak menyisakan puing-puing bangunan kecuali fondasi dasar. Puluhan rumah semi permanen lainnya tergeser dari posisinya. Harta benda juga ikut hilang, terbawa arus air, bahkan ternak-ternak seperti sapi, kambing dan lain-lain, pun ikut terseret arus. Kabar yang diperoleh lewat investigasi lapangan YTM, 30 ternak sapi tak lagi ditemukan di Desa Bahodopi, dan jika dihitung secara keseluruhan, ada ratusan ternak hilang terbawa arus air. Begitu pula dengan kendaraan motor dan mobil, sebagian dapat terselamatkan, sebagian lainya tak lagi diperoleh.

Banyak kabar menyebutkan bahwa musibah banjir ini murni karena kondisi alam, sebagaimana sejak awal Juni 2015, hujan terus mengguyur di wilayah ini, termasuk di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Kabar lainnya, banjir bandang ini datang dari sungai yang menyebabkan tanggul penahan deras dan debit air terbongkar lalu membawa debit air yang besar, yang hanya berjarak ± 75 meter dari perkampungan Bahomakmur.

Sebelumnya, banjir serupa juga pernah terjadi pada tahun 2010.[3] Para petani menganggap bahwa banjir bandang merupakan dampak dari pembongkaran hutan di hulu sungai yang dilakukan PT BDM. Karena sebelum perusahaan datang di Blok Bahodopi , tidak pernah terjadi banjir bandang yang membawa lumpur dan material kayu, hingga menenggelamkan areal persawahan dan juga menggenangi rumah-rumah penduduk.

Aksi protes terhadap aktivitas perusahaan berkali-kali dilakukan, bahkan yang terakhir para petani didampingi sejumlah aktivis dan mahasiswa mendatangi langsung Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Provinsi, Gubernur Sulawesi Tengah. Sebelumnya aksi-aksi protes dilakukan di Kantor Bupati Morowali dan DPRD Kabupaten Morowali. Para petani menuntut ganti rugi perusahaan atas kerugian yang mereka alami, namun hingga kini perusahaan tak kunjung mersepon. Padahal, keuntungan yang diperoleh perusahaan ini sudah mencapai triliunan rupiah. Bahkan, PT SMI kabarnya akan kembali membangun pabrik Stainlees Steel (baja tahan karat) dengan industri-industri turunannya di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi.

Sebelumnya, protes juga datang dari ketua komisi C DPRD Morowali, Muhammad Ali Sun, pada 22 Agustus 2010 agar PT BDM mengehentikan sejenak operasi produksinya di Blok Bahodopi, karena terbukti melakukan pengrusakan lingkungan hingga menyebabkan banjir bandang.[4]

Penutup

Dengan demikian, bukan anti terhadap kemajuan tenaga produktif dan kehidupan modern. Tetapi, produksi ekstraktif model kapitalisme telah banyak menelan korban rakyat pekerja, petani dan masyarakat luas. Pelajaran-pelajaran telah banyak kita temui/peroleh, seperti halnya Freeport, pasca tambang Morowali 2014, semuanya menyisakan cerita pahit bagi rakyat pekerja dan alam. Sehingga model yang kami tawarkan adalah industri yang dikontrol oleh rakyat pekerja dan masyarakat luas, yang mengutamakan evaluasi dan perencanaan produksi yang demokratis oleh rakyat pekerja dan rakyat luas. Pemanfaatan alam tidak seperti motif perusahaan kapitalisme ekstraktif, yakni memperoleh profit tinggi. Tetapi, kegunaannya berdasarkan kebutuhan sosial rakyat pekerja dan masyarakat luas.

Catatan:

[1] Anto Sangaji, ‘Kerja dan Alam’, draf Pendidikan Ekonomi Politik Yayasan Tanah Merdeka, 2013.

[2] Perusahaan patungan PT Bintang Delapan Mineral (BDM) dan PT Thixing Group asal Cina.

[3] Pada tahun 2010, banjir bercampur lumpur menggenangi perkampungan Bahomakmur. Sawah-sawah yang sudah ditanami dan hampir panen tertutup lumpur merah hingga sebagian padi tak lagi dapat dipanen. Saluran irigasi sebagai sumber untuk mengairi sawah ikut terputus. Hingga saat ini ratusan hektar sawah petani Bahokmakmur tak lagi termanfaatkan karena tanahnya telah berubah menjadi tanah merah. Beberapa kali petani Bahomakmur mengolahnya tetapi selalu gagal panen, karena tanah di areal persawahan mereka tak lagi produktif. Banjir ini merupakan dampak pengerukan mineral nikel di hulu sungai, sehingga ketika musim hujan tiba, wilayah ini selalu langganan banjir.

[4] Baca Media Alkhairaat, Senin, 23 Agustus 2010.

Sumber: prp-indonesia.org

|Yayasan Tanah Merdeka | Telepon/fax (0451) 425 892 |Jl. Tanjung Manimbaya III No. 111 B Palu 94113, Sulawesi Tengah |paluytm@gmail.com/ytm@ytm.or.id|