Dianggap Berdampak, Masyarakat Lambolo Protes PT CORII

Lambolo – Masyarakat Dusun V Lambolo menuntut manajemen PT. COR Industri Indonesia (CORII) bertanggungjawab atas dampak pendirian Smelter di wilayahnya. Perkampungan tepi pantai itu masuk wilayah admisitratif Desa Ganda Ganda, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara.

Rahing, Kepala Dusun V Lambolo kepada sejumlah wartawan menuturkan aksi unjuk rasa puluhan warga tergabung dalam Gerakan Masyarakat Lambolo, Senin (13/3) pagi, sebagai bentuk kekecewaan atas tuntutan masyarakat yang diajukan kepada pimpinan PT COR Industri Indonesia, 5 Desember 2016 lalu.

“Sudah tiga bulan kami mengajukan surat pernyataan sikap, tapi belum ada tindakan lanjutan dari pihak perusahaan,” kata Rahing ditemui saat melakukan pertemuan bersama warganya usai unjuk rasa.

Menurut dia, surat pernyataan sikap itu ditandatangani 93 orang warga Dusun V Lambolo. Di dalamnya memuat empat poin, tiga di antaranya yakni warga sepakat tidak menerima rencana relokasi yang ditawarkan PT. COR Industri Indonesia.

Kemudian penduduk setempat mengusulkan atau memohon dana konpensasi akibat dampak pengoperasian pabrik sebesar Rp2,5 juta per kepala keluarga setiap bulan.

Jika dana konpensasi dampak itu diakomodir PT COR Industri Indonesia, maka masyarakat secara bersama sepakat tidak akan menuntut lagi, akibat dampak debu, asap dan bising yang ditimbulkan aktivitas pabrik.

“Karena belum digubris, masyarakat Dusun V Lambolo kembali meminta PT COR Industri Indonesia segera memberikan kompensasi tersebut,” jelas Rahing.

Selain tuntutan ini, aksi meminta PT COR Industri Indonesia mengutamakan penerimaan karyawan tenaga kerja lokal. Meminta Pemda Morowali Utara dan PT COR Industri Indonesia mengadakan air bersih untuk masyarakat Lambolo, serta meminta Pemda Morowali Utara untuk membantu dan memberikan dukungan kepada masyarakat Lambolo mendapatkan hak konpensasi itu.
“Soal suara bising pabrik itu benar. Apalagi kalau mengajar, kadang papan tulis sudah sulit digunakan karena terus tertutup debu pabrik,” ungkap Munira.

Salah seorang guru di SD Lambolo itu menambahkan, rencana relokasi sekolah sudah ada sejak beberpa waktu lalu. Namun kondisi saat ini baru persiapan lahan. Sementara pembangunan gedung sekolah dengan total murid 65 orang itu belum dilaksanakan.

“Sekolah kami akan direlokasi. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tandanya,” sebut Munira.

Terkait tuntutan warga, Humas Eksternal PT COR Indsutri Indonesia Ratnawati kepada wartawan menyebutkan pihaknya akan duduk bersama warga Dusun V Lambolo, 20 Maret 2017 mendatang.

“Sekarang kita belum bisa menyetujui permintaan konpensasi dengan nilai tersebut. Apalagi angkanya sangat besar jika dihitung per kepala keluarga setiap bulan selama pabrik kami beroperasi,” kata Ratna.
Ratna menjelaskan, tuntuntan tersebut masih butuh persetujuan tingkat direksi dan pemegaang saham. Jika berbentuk program bukan dana tunai, dia memastikan PT COR Industri Indonesia lebih cepat memenuhinya.

Kendala lainnya adalah penambahan penduduk yang cukup tinggi. Padahal kata Ratna, dalam dokumen Amdal mereka, warga setempat tidak sebanyak seperti sekarang.

Saat unjuk rasa berlangsung, Ratna membenarkan ada Sekretaris Daerah Kabupaten Morowali Utara Yalbert Tulaka mampir menemui warga. Kebetulan pejabat itu menuju kota Palu melalui jalur Soyojaya.

Sekda lalu menanyakan alasan PT COR Industri Indonesia yang tidak meneruskan tuntutan warga kepada Pemkab Morut.

“Kita sudah koordinasi dengan pihak kecamatan agar dilakukan verifikasi penduduk. Intinya sekarang kita belum bisa memutuskan. Nanti kita lihat perkembangan pada pertemuan bersama warga selanjutnya,” tandasnya. (Ilo)

Sumber: moriwana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

|Yayasan Tanah Merdeka | Telepon/fax (0451) 425 892 |Jl. Tanjung Manimbaya III No. 111 B Palu 94113, Sulawesi Tengah |paluytm@gmail.com/ytm@ytm.or.id|