Home / Kampanye / Berita / Ledakan di Kawasan Industri Nikel Morowali Tewaskan Pekerja, YTM: Kecelakaan Kerja Berulang

Ledakan di Kawasan Industri Nikel Morowali Tewaskan Pekerja, YTM: Kecelakaan Kerja Berulang

Ledakan di kompleks kawasan industri nikel milik PT Indonesia Industrial Morowali Park (IMIP), di Desa Fatuvia, Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, menewaskan seorang pekerja Tiongkok, Selasa (25/4/16) pukul 09.25. Korban teridentifikasi bernama Haiwei, karyawan sub kontrak industri IMIP, Dingxin Stanless Steel (DSS).

Kronologi dihimpun Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulteng, Haiwei, mengalami luka sobek di belakang kepala, kening dan leher tersayat, tangan kanan dan kaki kiri patah dan jari kiri putus serta kaki kanan remuk.

Haiwei, hendak membuka kontainer berisi logistik. Dia mendapat tugas mengambil cat di dalam kontainer dengan melubangi peti menggunakan mesin las pukul 09.25. Saat pelubangan, tiba- tiba kontainer meledak dan menimpa Haiwei.

Petugas keselamatan kerja bersama sekuriti tiba di lokasi, mendapati korban terkapar tak bernyawa. Jenazah dilarikan ke klinik internal milik PT Bintang Delapan Mineral (BDM), perusahaan pemilik konsesi tambang nikel yang joint bisnis dengan Dingxin Group membangun kompleks tambang nikel.

Direktur Jatam Sulteng, Syahrudin Ariestal Douw mengatakan, standar keselamatan kerja rendah menjadi penyebab utama kecelakaan kerja dalam kompleks pengolahan nikel ini. “Perusahaan tak memiliki standar keamanan baik hingga ada korban jiwa.”

Bukan kali pertama

Kecelakaan pekerja bukan kali pertama terjadi di kawasan industri ini. Yayasan Tanah Merdeka (YTM) mencatat, pada 2013 terjadi kecelakaan kerja serupa. Truk pengangkutore terbalik dengan muatan penuh. Kecelakaan berulang pada 2014, pekerja Tiongkok meninggal saat bekerja. Dia jatuh dari konstruksi tiang pabrik ketinggian 30 meter.

“Kami berulang mendesak Pemerintah Morowali bahkan Gubernur Sulteng evaluasi perusahaan ini karena tak punya perhatian terhadap pekerja,” kata Adriansyah Manu, Koordinator Divisi Kampanye YTM.

Investigasi YTM 2015 menemukan kondisi pekerja buruk di kawasan industri Morowali. Keselamatan kerja rendah pada pekerja dengan lapangan, terutama sopir truk dengan upah harian. Mereka seringkali mengalami kecelakaan kerja, mulai truk terbalik hingga benturan alat berat karena mengejar target produksi. Demikian pula pekerja tanpa skill. “Banyak mengalami luka bakar karena pakaian tak anti api,” katanya.

Bahkan lebih buruk, pelecehan seksual terhadap pekerja perempuan pada 2014, “Kami sudah laporkan kepada kepolisian tetapi tak ada proses.”

Direktur Walhi Sulteng Aries Bira, menyesalkan, kejadian ini. Sejauh ini, tak ada evaluasi oleh badan-badan pemerintah terkait keselamatan kerja dan lingkungan sekitar kawasan industri Morowali. Dia mendesak kepolisian menyelidiki kasus kecelakaan kerja ini.

Berdiri di atas utang

IMIP, adalah perusahaan pemilik tanah dan pengelolaan kawasan yang bertanggung jawab untuk konstruksi. Perusahaan ini didirikan berdasarkan investasi patungan antara Shanghai Investment (Group) Co, Ltd, perusahaan afiliasi Tsingshan Baja yang memegang 66,25% saham, dan PT Bintang Delapan Group 33,75%.

Perusahaan dibangun untuk mengelola kawasan industri turunan produksi nikel lebih dari 1.300 hektar. Dalam kawasan akan dibangun pembangkit listrik termal berkekuatan 1100 MW. Proyek tahap pertama IMIP pembangunan smelter ferronikel SMI dengan kekuatan 300.000 metrik ton per tahun dan 2 × 65 MW pembangkit listrik termal, didanai pinjaman China Development Bank (CBD) dan Industrial and Commercial Bank of China (Indonesia) Ltd di lahan 95 hektar. Total investasi lebih US$600 juta.

Pembangunan mulai 16 Juli 2013, selesai Januari 2015. Presiden Indonesia Joko Widodo meresmikan projek ini Juni 2015.

Untuk proyek tahap kedua, IMIP adalah smelter feronikel dengan kekuatan produksi 600.000 metrik ton per tahun dengan 2 ×150 MW pembangkit listrik termal, didanai menengah dan jangka panjang pinjaman US$700 juta dari Bank of China Eksport-Import, dan ICBC.

Proyek ini berdiri di lahan 86 hektar total investasi lebih US$1 miliar, dengan harapan menghasilkan 600.000 metrik ton feronikel, penjualan tahunan sekitar US$1,2 miliar. Konstruksi mulai Mei 2014.

Untuk proyek tahap ketiga, adalah pabrik stenless steel kekuatan produksi satu juta ton dengan listrik 2×150 MW pembangkit listrik termal, didanai pinjaman CDB US$570 juta, total investasi lebih US$800 juta. Masih ada sembilan proyek lain.

Sumber: Mongabay.co.id

About admin

x

Check Also

YTM Desak Pemerintah Sulteng Berlakukan Karantina Wilayah

TweetPALU, SULTENGNEWS.COM – Yayasan Tanah Merdeka (YTM) mendesak Pemerintah Sulawesi Tengah (Sulteng) ...