PELAJAR DONGI-DONGI BELUM RASAKAN KEMERDEKAAN

Sekolah Beratap Rumbia Berdiding Papan Lapuk

SULTENG POST– Republik Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kehidupan dunia pendidikan kita nampaknya masih cukup memprihatikan. Di usia kemerdekaan RI ke 71 tahun, tidak istimewa bagi seratusan pelajar di Dongi-dongi, kawasan Taman Nasional lore Lindu.

Disana masih terdapat sekolah menggunakan dinding papan berlubang-lubang, beratap rumbia bocor, dan masih berlantai tanah. Bahkan tiang benderanya tak menjulang lurus ke atas karena terbuat dari sebatang bamboo yangtidak tegak.

 Meski dengan suasana yang sangat memprihatikan, 150 siswa, mulai dari tingkat SD hingga SMP di Dusun Dongi-Dongi, Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, masih tetap semangat dan menikmati dunia pendidikan.

 Setiap harinya, para siswa-sisiwi ini belajar seadanya. Mereka hanya mengandalkan buku-buku hasil sumbangan, dengan tenaga pengajar yang tidak berpendidikan tinggi.

 Untuk SMP Negeri Dongi-Dongi, guru yang mereka andalkan untuk mengajari mereka ilmu pengetahuan setiap harinya, merupakan sepasang suami isteri yang pendidikannya hanyalah tamatan SMA.

 Pasangan suami isteri, Sengko dan Heli Deice Mundung, sering kali bergantian untuk memberikan pelajaran kepada 20 orang anak didik mereka. Keduanya melakukan secara sukarela, dengan upah dua ratus ribu perbulan yang diterima setiap tiga bulan sekali.

Sedangkan untuk SD, yang jumlah siswanya sebanyak 130 anak, enam orang tenaga pengajarnya juga hanyalah tamatan SMA.

 Pendiri sekolah Heli Deice Mundung mengaku, telah belasan tahun mengabdi tanpa status yang jelas. Bersama suaminya, mereka mendirikan sekolah itu sejak 2003 silam, dengan kondisi yang serba ksulitan.

 Menurutnya perasaan iba dan keterpanggilan yang harus membuatnya rela berkorban, membagikan membagikan ilmu pengetahuannya yang tidak seberapa hebat.

 “Karena saya kasihan, melihat anak-anak begitu begitu banyak di Dongi-Dongi ini tidak punya pendidikan.

Mereka hanya tingal di kebun. Seperti itulah. Jadi saya dirikan sekolah dan saya berikan pelajaran pada mereka ,” ujar Heli Deice mundung.

Deice Mundung berharap mendapat perhatian dan bantuan pemerintah, untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang mereka miliki, dengan tujuan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia, khususnya di Poso, agar mereka setara dengan pelajar lainnya. Apalagi diusia Kemerdekaan RI yang saat ini mencpai 71 tahun.

Salah seorang sisiwa disekolah tersebut, juga sempat mengungkapkan keinginannya yang tentu menyedihkan. Bersama teman-temannya, mereka ingin memiliki sekolah yang bagus dan layak untuk dijadikan tempat menimba ilmu.

 “Ingin supaya sekolah kita seperti teman-teman di kota. Agar atapnya tidak bocor lagi dan lantainya bukan tanah. Agar dibantu juga dengan buku-buku, agar kami juga bias belajar,’’ aku Amar, siwa kelas VI SDN Dongi-Dongi.

 Hal lain yang juga memprihatinkan, para siswa sering kali harus belajar diluar kelas, karena jumlah kelas yang tidak mencukupi. Bahkan jika hari sedang hujan, mereka terpaksa diliburkan karena atap sekolah yang mengalami bocor parah.

 Danramil Lore, Kapten Asrar, yang sempat ditemui Poso Raya di wilayah tersebut, mengaku sejak 2014 lalu memohonkan bantuan kepada pemerintah daerah.

 “sudah dijanjikan tapi sampai sekarang belum ada. Beberapa kali saya tanya sabar nanti perubahan anggaran. Tapi sampai sekarang belum ada,” tandasnya.

Sumber: Sulteng Post, Edisi 18 Agustus 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

|Yayasan Tanah Merdeka | Telepon/fax (0451) 425 892 |Jl. Tanjung Manimbaya III No. 111 B Palu 94113, Sulawesi Tengah |paluytm@gmail.com/ytm@ytm.or.id|