Buruh Rentan Mengalami Kecelakaan Kerja

Bulan Oktober 2022 Kemarin, Institut Kajian Krisis dan Strategi Pembangunan Alternatif (INKRISPENA) mengeluarkan satu Aktivitas penilaian resiko di kalangan buruh pertambangan Nikel di perusahaan PT Indonesia Morowali Industrial ParkĀ (IMIP). Dalam catatan tersebut memuat cara perusahaan dalam mengontrol dan menjaga keselamatan kerja kelas buruh.

Temuan di lapangan memang tidak berbeda jauh dengan apa yang selalu kita sebut dengan eksploitasi kelas pekerja dari segi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), namun yang menarik adalah catatan tersebut memuat lebih detail tentang aktivitas kerja buruh yang rentan mengalami kecelakaan.

Kasus kecelakaan yang sering terjadi di lingkungan tambang nikel merupakan tanggung jawab perusahaan, sehingga wajib dari segi pengawasan dan pemberian alat pelindung diri (APD) harus secara maksimal diberikan.

Seperti yang terjadi di perusahaan IMIP, yakni Departemen HSE (Health, Safety and Environment), departement yang tidak bekerja dalam pengolahan nikel namun berkaitan langsung dengan buruh, sebap tugas dari divisi ini adalah melakukan pengawasan terhadap penggunaan alat-alat keselamatan kerja, melakukan pelaporan atas kecelakaan kerja dan memberi catatan teguran atas pelanggaran peraturan keselamatan kerja.

Departement ini terbilang bertanggung jawab atas semua resiko kecelakaan yang terjadi dalam pengolahaan nikel, namun temuan di lapangan menyebutkan bahwa keluhan dari para buruh menyebutkan departement ini jarang melakukan pencegahan sebelum terjadinya kecelakaan.

Selain masalah pencegahan diatas, perhatian khusus juga tertuju pada alat pelindung diri (APD) kelas pekerja, dimana Data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk Januari-September 2019 menyatakan bahwa, dalam waktu kurang dari satu tahun, terdapat 154 kasus kecelakaan kerja di area IMIP. Kecelakaan paling sering terjadi di bagian feronikel, selama proses pirometalurgi, dan peleburan nikel, dan di mana diperlukan alat pelindung diri (APD) berkualitas baik yang mampu menahan panas tinggi.

Contoh lainnya, dalam proses peleburan nikel tenaga kerja hanya difasilitasi dengan penggunaan masker 3 lapis biasa yang dijual di warung-warung, padahal dalam proses ini mengandung unsur kimia dan panas, hasil pencampuran berbagai elemen sumber daya alam.

Pencegahan kecelakaan kerja di lingkungan industri mesti jadi prioritas utama perusahaan, perlu ada evaluasi menyeluruh dari segi kontrol dan pemberian APD kepada kelas pekerja.

Sumber Review : Penilaian Resiko Industri Pengolahan Nikel di IMIP Morowali (INKRISPENA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.